Friday, April 1, 2016

SEJARAH PERADABAN ISLAM DI SPANYOL

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Setelah berahirnya periode klasik Islam, ketika Islam memulai memasuki masa kemunduran, Eropa bangkit dari keterbelakangannya. Kebangkitan itu bukan saja terlihat dalam bidang politk, dengan keberhasilan Eropa mengalahkan kerajaan  kerajaan Islam dan bagian dunia lainnya, tetapi terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan, kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi itulah yang mendukung keberhasilan politiknya. Kemajuan kemajuan Eropa ini tidak bisa dipisahkan dari pemerintahan Islam di Spanyol. Dari Spanyol Islamlah Eropa banyak menimba ilmu. Pada periode klasik, ketika Islam mencapai masa keemasannya, Spanyol merupakan pusat peradaban Islam yang sangat penting, menyaingi Baghdad di timur. Ketika itu, orang orang Eropa Kristen banyak belajar di perguruan  perguruan tinggi Islam disana. Islam menjadi “guru” bagi orang Eropa. Karena itu, kehadiran Islam di Spanyol banyak menarik perhatian para sejarahwan. Untuk lebih jelasnya kita akan membahas tentang Islam di Spanyol sebagai berikut.

B.     RUMUSAN MASALAH
a.       Spanyol sebelum Islam.
b.      Masuknya Islam ke Spanyol.
c.       Perkembangan Islam di Spanyol.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Spanyol sebelum Islam.
Sebelum Islam masuk ke Spanyol, sekitar abad ke-5 Masehi, bangsa Jerman mendatangi semenanjung Iberia. Theodoric, raja Ostogoth mendirikan istananya diToledo sekitar tahun 513 M. Kemudian pada tahun 569 M, Leovigildo, seorang raja Visigoth, menjadikan Toledo sebagai ibukota Kerajaan Visigoth Spanyol. Sejak itulah, Toledo mengalami kejayaan yang pertama. Pada tahun 689 M, raja Recaredo menjadikan Katolik sebagai agama resmi di Spanyol.
Pada abad ini juga  kaum Gotik memasuki Spanyol, mereka harus berjuang sekian lama untuk mengagntikan para pendahulu mereka orang Suevi dan Vandalyang juga pernah menyerbu grombolan Germanik, setelah kaum Gotik dapat menaklukan kaum germanik, mereka dapat berkuasa sebagai penguasa yangabsolute, dan acapkali bersikap kejam. Mereka menjadikan ajaran Kristen aria menjadi sandaran hidup dengan sikap tidak toleran terhadap aliran agama yang dianut oleh pengusa-penguasa di beberapa daerah Spanyol, yaitu aliran Monofisit, apa lagi terhadap penganut agama lain, yahudi. Penganut agama yahudi yang merupakan bagian terbesar  dari penduduk Spanyol dipaksa untuk dibaptis menurut agama Kristen aria, yang tidak bersedia dipaksa dan dibunuh secara brutal.[1] Rakyat dibagi kedalam system kelas, sehingga keadaanya diliputi oleh kemelaratan, ketertindasan dan ketiadaan persamaan hak. Hal itu menyebabkan kerusuhan dan kekacauan yang disebabkan perlawanan dan pemberontakan oleh koloni koloniyahudi untuk mendapatakan hak hak mereka dan juga untuk mempertahankan ajaran agama yahudi.
B.     Masuknya Islam ke Spanyol.
Ekspansi pasukan muslim ke Semenajung Iberia, gerbang barat daya Eropa, merupakan serangan terakhir dan paling dramatis dari seluruh operasi militer penting yang dijalankan oleh orang orang Arab. Serangan itu menandai puncak ekspansi muslim kewilayah Afrika dan Spanyol
Dari sisi kecepatan operasi dan kadar keberhasilannya, ekspansi ke Spanyol memiliki kedudukan yang unik dalam sejarah militer abad pertengahan. Dalam proses ekspansi ke Spanyol terdapat tiga pahlawan isalam yang dapat dikatakan paling berjasa memimpin satuan satuan pasukan ke Spanyol mereka adalah Tharif Ibn Malik, Thariq Ibn Ziyad dan Musa Ibn Nushair. Tharif dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik. Yang menyebrangi selat yang berada diantara Maroko dan benua Eropa dengan satu pasukan perang, 500 orang diantaranya adalah tentara berkuda, mereka menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian.[2] Dalam penyerbuan itu Tharif tidak mendapat perlawanan yang berarti. Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit jumlahnya. didorong oleh keberhasilan Tharif dan kemelut yang terjadi dalam tubuh kerajaan Gotik yang berkuasa di Spanyol pada waktu itu, Musa Ibn Nushair pada tahun 711 M, mengirim pasukan ke Spanyol sebanyak 7000 orang dibawah pimpinan Thariq Ibn Ziyad.[3]
Thairq Ibn Ziyad lebih banyak dikenal sebagai penakluk Spanyol karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya sebagian besar terdiri dari suku Barbar yang didukung oleh Musa Ibn Nushair dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim oleh Khalifah Al Wlid. Pasukan itu kemudian menyebrangi selat dibawah pimpinan Thariq Ibn Ziyad.[4] Sebuah gunung tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq). Dengan dikuasainya daerah ini, maka terbukalah pintu secara luas untuk memasuki Spanyol. Dalam pertempuran di suatu tempat yang bernama Bakkah, raja Roderick dapat dikalahkan. Dari situ Thariq dan pasukannya terus menaklukan kota kota penting, seperti ;Kordova,  Grenada dan Toledo (ibu kota kerjaan Gotik saat itu).[5] Sebelum Thariq menaklukan kota Toledo, ia meminta tambahan pasukan kepada Musa Ibn Nushair di Afrika Utara. Musa mengirimkan tambahan pasukan sebanyak 5000 personil,sehingga jumlah pasukan Thariq seluruhnya 12000 orang jumlah ini belum sebanding dengan pasukan Gotik yang jauh lebih besar, 100.000 orang.
Kemenangan pertama yang dicapai oleh Thariq Ibn Ziyad membuka jalan untuk menaklukan wilayah yang lebih luas lagi.untuk itu, Musa Ibn Nushair merasa perlu untuk melibatkan diri dalam gelanggang pertempuran dengan maksud membantu perjuangan Thariq. Dengan suatu pasukan yang besar, ia berangkat dari selat itu dan satu persatu kota yang dilewtinya dapat ditaklukan. Setelah Musa  berhasil menaklukan Sidonia, Karmona, Seville dan Merida serta mengalahkan penguasa kerajaan Gotik, Theodomir di Orihuela, ia bergabung dengan Thariq di Toledo.Selanjutnya keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya, mualai dari Saragossa sampai Navarre.[6]
Gelombang perluasan wilayah berikutnya muncul pada masa pemerintahankhalifah Umar Ibn Abdul Aziz tahun 717 M. kemenangan kemenangan yang dicapai umat Islam terlihat begitu mudah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu, faktor internal dan ekstranal.
Faktor Internal.[7]
Adalah suatu kondisi yang terdapat didalam tubuh penguasa, tokoh tokoh pejuang dan para prajurit umat Islam yang terlibat dalam penaklukan wilayah Spanyol pada  khususnya, faktor faktor itu anatara lain:
1.      Para pemimpin dari pejuang Islam adalah tokoh tokoh yang kuat.
2.      Para prajurit umat Islam mempunyai kekompakan, persatuan dan rasa percaya diri yang sangat tinggi dalam penaklukan diwilayah Spanyol.
3.      Yang tidak kalah pentingnya adalah ajaran Islam yang ditunjukan para tenatara Islam yaitu sifat toleransi, persaudaraan dan tolong menolong yang menyebabkan kaum pribumi menyambut kehadiran Islam di Spanyol.
Faktor eksternal.[8]
Adalah suatu kondisi yang terdapat didalam Negara Spanyol sendiri. Yaitu;
1.      Sikap penguasa Gotik yang tidak toleran terhadap aliran agama yang berkembang pada saat itu. Penguasa Gotik memaksa aliran agama kepda masyarakat. Penganut agama yahudi yang merupakan komunitas terbesar dari penduduk Spanyol dipaksa untuk dibaptis menurut agama Kristen.dalam kondisi ini mereka merasa tertindas secara teologis, yang menyebabkan mereka berharap datangnya juru pembebas. Dan juru pembebas tersebut mereka temukan dari orang orang Islam. Demi kepentingan mempertahankan keyakinan, mereka bersekutu dengan tentara Islam melawan pengusa Gotik.
2.      Perselisihan antra raja Rodrick dan Witiza (wali kota Toledo), disatu pihak dan ratu Julian dipihak lain. Oppas dan Achila kakek dan anak Witiza menghimpun kekuatan untuk menjatuhkan Rodrick, bahkan berkoalisi dengan kaum muslimin di Afrika Utara. Demikian pula ratu Julian memberikan pinjaman empat buah kapal yang dipakai oleh Tharif, Thariq dan Musa.
3.      Faktor lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa tentara Rodrick tidak mempunyai semangat perang, yang disebabkan bertambah kuatnya pasukan tentara Islam setelah berkoalisinya kedua raja dan ratu tersebut.

C.     Perkembangan Islam di Spanyol.
Sejak pertama kali menginjakan kaki di tanah Spanyol hingga jatuhnya kerjaan Islam terakhir disana, Islam memainkan peranan yang sangat besar. Masa itu berlangsung lebih dari tujuh setengah abad. Sejarah panjang yang dilalui umat Islam di Spanyol dibagi menjadi enam periode, yaitu:
1.      Periode pertama (711-755 M)
Pada periode ini, Spanyol berada dibawah pemerintahan para wali yang di angkat oleh khalifah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna, gangguan gangguan masih terjadi, baik datang dari dalam maupun luar. Gangguan dari dalam antara lain berupa perselisihan diantara elit penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan. Disamping itu, terdapat perbedaan pandangan antara khalifah di Damaskus dan gubernur Afrika Utara yang berpusat di Kairawan. Masing masing mengaku bahwa merekalah yang paling berhak menguasai daerah Spanyol ini. Oleh karena itu terjadi duapuluh kali pergantian wali ( gubernur) Spanyol dalam  jangka waktu yang amat singkat.perbedaan pandangan politik itu menyebabkan seringnya terjadi perang saudara. Hal ini ada hubunganya dengan perbedaan etnis, terutama antara Barbar asal Afrika Utara dan Arab. Didalam etnis arab sendiri terdapat dua golongan yang terus menerus bersaing, yaitu suku Qaisy (Arab Utara) dan Arab Yamani ( Arab Selatan). Perbedaan ini sering kali menimbulkan konflik politik, terutama ketika tidak  ada figur yang tangguh. Itulah sebabnya di Spanyol pada saat itu tidak ada gubernur yang mampu mempertahankan kekuasaannya untuk jangka waktu yang agak lama.[9]
Gangguan dari luar datang dari sisa sisa musuh Islam di Spanyol yang bertempat tinggal didaerah daerah pegungan yang memang tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Islam. Gerakan ini terus memperkuat diri. Karena sering terjadinya konflik internal dan berperang menghadapi musuh dari luar, maka dalam periode ini Islam Spanyol belum memasuki kegiatan pembangunan dibidang peradaban dan kebudayaan. Periode ini berakhir dengan datangnya Abd. Al Rahman Al Dakhil ke Spanyol pada tahun 138 H/ 755 M.
2.      Periode kedua (755-912 M)
Pada periode ini, Spanyol berada dibawah pemerintahan seorang yang bergelarAmir ( panglima atau gubernur) tetapi tidak tunduk kepada pusat pemerintahan Islam, yang ketika itu dipegang oleh kahlifah Abbassiyah di Baghdad. Amir pertama adalah Abdurrahman I yang memasuki tahun 138 H/ 755 M. dan diberi gelar Al Dakhil (yang masuk ke Spanyol). Dia adalah keturunan Bani Umayyah yang berhasil lolos dari kejaran Bani Abbas ketika yang terakhir berhasil menaklukan Bani Umayyah di Damaskus. Selanjutnya, ia berhasil mendirikan dinasti Bani Uamyyah di Spanyol. Penguasa penguasa di Spanyol pada periode ini adalah Abd. Al Rahman Al Dakhil, Hisyam I, Hakam I, Abd. Al Rahman Al Austh, Muahammad Ibn Abd. Al Rahman, Munzir Ibn Muahammad, dan Abdulloh Ibn Muahammad.
Pada periode ini, umat Islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan kemajuan, baik dalam bidang politik maupun dalam bidang peradaban, antara lain:
a.       Abd. Al Rahman Al Dakhil mendirikan masjid Cordova dan sekolah sekolah di kota kota besar Spanyol.
b.      Hisyam terkenal dalam menegakan hukum Islam.
c.       Hakam dikenal sebagai pembaharu dalam bidang kemiliteran. Dan dialah yang memprakarsai tentara bayaran Spanyol.
d.      Abd. Al Rahman Al Ausath dikanal sebagai penguasa cinta ilmu,[10] dan pada masanya juga mulai masuk pemikiran filsafat, dan dia juga mengundang para ahli dari duania Islam lain untuk datang ke Spanyol hingga di Spanyol mulai marak kegiatan ilmu pengetahuan.

Walaupun banyak perkembangan pada periode ini, tetapi ancaman dan kerusuhan tetap terjadi, antara lain:
a.       Pada abad ke-9, stabilitas Negara terganggu dengan munculnya gerakan Kristen fanatik  yang mencari ke-syahidan (Martyrdom).[11] Tetapi, gereja Kristen di Spanyol tidak menaruh simpati pada gerakan ini, karena pemerintahan Islam mengembangkan kebebasan beragama. Penduduk Kristen diperbolehkan memiliki pengadilan sendiri berdasarkan hukum Kristen peribadatan tidak dihalangi. Lebih dari itu, mereka diizinkan mendirikan gereja baru, biara biara disamping asrama rahib atau lainnya. Mereka juga tidak dihalangi bekerja sebagai pegawai pemerintahan atau menjadi karyawan pada instansi militer.[12]
b.      Pada periode ini  terjadi gangguan politik yang serius dari umat Islam sendiri. Golongan pemberontak di Toledo pada tahun 852 M membentuk Negara kota yang berlangsung selama delapan puluh tahun. Disamping itu sejumlah orang yang tidak puas membangkitkan revolusi, diantaranya adalah pemberontakan pemberontakan yang dipimpin oleh Hafshun dan anaknya yang berpusat pegunungan dekat Malaga. Sementara itu, perselisihan antara orang orang Barbar dan orang orang Arab masih terjadi.[13]
3.      Periode ketiga (912-1013 M)
Pemerintahan ini berlangsung mulai dari pemerintahan Abd. Al Rahman III yang bergelar Al Nashir, sampai munculnya raja raja kelompok yang disebut muluk Al Thawaif. Pada pemerintahan ini Spanyol dipimpin oleh penguasa dengan gelar khalifah, penggunaan gelar ini bermula dari berita yang sampai kepada Abd. Al Rahman III, bahwa Al Muktadir khalifah daulah Bani Abbas di Baghdad dibunuh oleh pengawalnya sendiri. Dan ini menunjukan bahwa pemerintahan Abbassiyah berada dalam kemelut. Hal ini menyebabkan pemakain gelar khalifah yang telah hilang selama 150 tahun lebih. Khalifah khlifah tersebut anatara lain Abd. Al Rahman Al Nashir (912-961 M), Hakam II (961-976 M), dan Hisyam II (976-1009 M).
Pada periode ini umat Islam Spanyol mencapai puncak kemajuan dan keemasan menyaingi daulah abbassiyyah. Antara lain:
a.       Abd. Al Nashir mendirikan Universitas Cordova, perpustakaan yang memiliki koleksi ratusan ribu buku.
b.      Hakam II mendirikan perpustakaan dan rakyatnya dapat menikmati kesejahtraan dan kemakmuran pemabangunan kota yang berlangsung.
4.      Periode keempat ( 1013-1086 M)
Pada periode ini, Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh  negara kecil dibawah pemerintahan raja raja golongan (al muluk al Thawaif) yang berpusat disuatu kota seperti Seville, Cordova, Toledo, dan sebagainya. Yang terbesar diantaranya adalah Abbadiyyah di Siville. Karena terpecahnya Spanyol menyebabkan perang saudara, hal ini dimanfaatkan oleh umat Kristen  mengambil inisiatif, untuk menyerang umat Islam. Walaupun terjadi kekacauan politik, namun kehidupan intelektual terus berkembang pada periode ini, yaitu istana istana mendorong para sarjana dan sastrawan untuk mendapatkan perlindungan dari suatu istana keisatana lain.[14]
5.      Periode kelima (1086-1248 M)
Walaupun dalam periode ini Islam terpecah menjadi beberapa negara, tetapi terdapat suatu kekuatan yang dominan, yaitu kekuasaan dinasti Murobithun (1086-1143) dan dinasti Muwahidun (1146-1235 M). dinasti Murobithun pada mulanya adalah suatu gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf Ibn Tasyfin di Afrika Utara. Pada tahun 162 M, ia berhasil mendirikan kerajaan yang berpusat di Marakesy. Ia masuk ke Spanyol atas undangan penguasa pengusa Islam disana, yang tengah memikul beban berat perjuangan mempertahankan negeri negerinya dari serangan orang Kristen. Pada tahun 1086 M, dinasti masuk ke Spanyol dan berhasil mengalahkan pasukan Castilia. Karena perpecahan dikalangan raja raja muslim Yusuf melangkah lebih jauh untuk menguasai Spanyol dan ia berhasil untuk itu. Pada tahun 1143 M, dinasti ini berakhir di Afrika Utara maupun di Spanyol dan digantikan oleh dinasti Muahidun yang berpusat di Afrika Utara dinasti ini merebut kembali daerah Saragossa yang jatuh ketangan Kristen pada Murobithun. Dinasti Muwahidun didirikan oleh Muhammad Ibn Tumart. Dinasti ini  masuk ke Spanyol dibawah pimpinan Al Muni’m. diantara tahun1114 dan 1154 dapat menguasai kotakota muslim penting di Spanyol yaitu Cordova, Almeria dan Granada. Dinasti ini mengalami kemajuan yaitu kekuatan kekuatan Kristen dapat dipukul mundur. Akan tetapi tidak lama kemudian umat Kristen dapat merebut kembali dan mengalahkan dinasti Muwahidun, yang menyebabkan dinasti ini kembali ke Afrika Utara. Keadaan Spanyol kembali kacau. Cordova dan Seville  jatuh ketangan Kristen kecuali Granada.
6.      Periode keenam (1248-1492 M)
Pada periode ini Islam di Spanyol hanya berkuasa di Granada dibawah dinasti Bani Ahmar (1232-1492 M). Pada masa ini peradaban kembali mengalami kemajuan seperti jaman Abd. Al Rahman Al Nashir. Kekuasaan ini yang merupakan kekuasanaan terakhir di Spanyol berakhir karena adanya perselisihan dalam istana untuk memperebutkan kekuasaan.
Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan Islam di Spanyol, umat telah mencapai kemajuan disana, bahkan berdampak pada kemajuan yang lebih kompleks, antara lain
a.       Kemajuan intelektual, seperti filsafat, sains, fiqih, musik, kesenian, bahasa, dan sastara.
b.      Kemegahan bangunan fisik, seperti; indahnya ibu kota Spanyol yaitu Cordova yang terdapat jembatan besar yang dibangun diatas sungai ditengah kota, terdapat istana istana ditengah kota yang memperindah pemandangan. Selain itu di Granada terdapat istana Al Hamra yang tidak kalah megahnya dengan istana di Corova.


BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Dari uarain diatas, maka dapat diambil  kesimpulan sebagai berikut:
1.      Sebelum Islam masuk ke Spanyol, banyak terjadi kekacauan yang disebabkan  oleh kerajaan Gotik memaksa kepada umat yahudi untuk dibaptis. Hal ini membawa dampak perpecahan yang sangat signifikan diantara bangsa Spanyol itu sendiri. Keadaan ini dimanfaatkan umat Islam dalam penaklukannya ke Spanyol
2.      Masuknya Islam ke Spanyol diawali oleh tiga pahlwan, mereka yaitu Tharif, Thariq dan Musa, yang melakukan ekspansi dengan melakukan penyeberangan melalui selat diantara Maroko dan Eropa.
3.      Masuknya Islam ke Eropa membawa dampak kemajuan yang sangat pesat dalam peradaban, antara lain kemajuan intelektual dan kemegahan bangunan.


DAFTAR PUSTAKA

Carl, Brockelman, Histori Of The Arabs, Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2006
Hitti, Philip K., History Of Islamic Peoples, londen: Rotledge & kegan paul, 1980
Syalabi, Ahmad, Mausu’ah Al Tarikh Al Islami Wa al Hadharah al Islamiyah, Jilid 4, Kairo: Maktabah al Nahdah al Mishriyah, 1979
Supriyadi, Dedi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung : Pustaka Setia, 2008
Syalabi, Ahmad, Sejarah dan Kebuayaan Islam,Jilid 2, Jakarta: Pustaka Al Husna, 1983
Spuler Bertold , The Moslem World:A Historical Survey, leiden: E. J. Brill, 1960
Thomas, W.,  Arnold, Sejarah Dakwah Islam, Jakarata: Wijaya, 1983
Wassenstein, David, Politics and Society in Islamic Spain:1002-1086, New Jersey:Princeton University Press, 1985
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam Jilid 2, Jakarta : PT.  Raja Grafindo, 2004
Zaidan, Jurji, Tarikh al Tamaddun al Islami, Jilid 3, Kairo: Daar al Hilal, tanpa tahun









[1] Thomas W,  Arnold, Sejarah Dakwah Islam, (Jakarata: Wijaya, 1983), hlm. 118
[2] A. Syalabi, Sejarah dan Kebuayaan Islam,Jilid 2, (Jakarta: Pustaka Al Husna, 1983), hlm. 158
[3] Philip K. Hitti, Histori Of The Arabs, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2006), hlm. 628
[4] Carl, Brockelman, History Of Islamic Peoples, ( londen: Rotledge & kegan paul, 1980), hlm. 83
[5] A, Syalabi, op.cit., hlm. 161
[6] Ibid., hlm.14
[7] Dr. Badri Yatim, MA. Sejarah Peradaban Islam Jilid 2, (Jakarta : PT.  Raja Grafindo, 2004), hlm. 93
[8] Dedi Supriyadi, M. Ag. Sejarah Peradaban Islam, ( Bandung : Pustaka Setia, 2008), hlm. 119
[9] David Wassenstein, Politics and Society in Islamic Spain:1002-1086, ( New Jersey: Princeton University Press, 1985), hlm. 15-16
[10] Ahmad Syalabi, Mausu’ah Al Tarikh Al Islami Wa al Hadharah al Islamiyah, Jilid 4, ( Kairo: Maktabah al Nahdah al Mishriyah, 1979), hlm. 41-50
[11] Jurji Zaidan, Tarikh al Tamaddun al Islami, Jilid 3, (Kairo: Daar al Hilal, tanpa tahun), hlm. 200
[12] Thomas W,  Arnold, Op.Cit., hlm. 126
[13] Bertold spuler, The Moslem World:A Historical Survey, (leiden: E. J. Brill, 1960), hlm. 126
[14] Ibid,. hlm. 108



Riwayat Hidup Nabi Muhammad Saw

Nabi Muhammad s.a.w. adalah anak Abdullah bin Abdul­ Muttalib. ibunya bernama Aminah binti Wahab. Kedua orang tua­nya itu berasal dari suku Quraisy yang terpandang dan mulia. Nabi Muhammad s.a.w. lahir pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah (atau, 20 April 571 Masehi). Dinamakan tahun Gajah, karena ketika beliau lahir, kota Makkah diserbu oleh Raja Brahah dan tentaranya dari negeri Habasyah dengan menunggang gajah. Mereka hendak menghancurkan Ka’bah karena iri hati terhadap­nya. Tetapi Allah melindungi bangunan suci itu dan seluruh pen­duduk Makkah, dengan menjatuhkan batu-batu Sijjil (dari neraka) yang amat panas kepada tentara itu. Maka binasalah mereka semuanya.
Ketika Nabi Muhammad s.a.w. masih. di dalam kandungan ibunya, Abdullah, ayahnya, pergi ke negeri Syam (Siria) untuk berdagang. Tetapi, sepulang dari sana, ketika sampai di kota Madinah, ia menderita sakit dan wafat dalam usia 18 tahun. Abdullah dimakamkan di kota Madinah. Maka, Nabi Muhammad s.a.w. dilahirkan ke dunia dalam keadaan yatim, di tengah-tengah masyarakat jahiliyah penyembah berhala, penindas kaum lemah, perampas hak orang, dan bahkan membunuh kaum wanita.

HALIMAH AS-SA’DIYAH MENJADI IBU SUSU NABI
Sudah menjadi adat bangsa Arab ketika itu, bahwa bayi seseorang disusukan kepada wanita lain. Begitu pula halnya Nabi Muhammad s.a.w. Beliau disusukan kepada seorang wanita dusun bernama Halimah as-Sa’diyah. Empat tahun lamanya beliau tinggal di dusun Bani Sa’ad bersama ibu susunya itu. Selama memelihara Nabi Muhammad, keluarga Halimah as-Sa’diyah memperoleh limpahan rezeki dari Allah SWT, sebagai berkah.
Menjelang usia lima tahun, Halimah as-Sa’diyah mengembalikan Nabi Muhammad s.a.w. kepada ibunya; karena telah terjadi peristiwa atas anak asuhnya itu yang mencemaskan hatinya. Ketika di dalam permainan bersama kawan-kawannya, Nabi Muhammad s.a.w. tiba-tiba didatangi dua laki-laki berpakaian serba putih, membaringkannya, kemudian melakukan sesuatu atas dada anak tersebut. Meskipun tidak sesuatu pun terjadi atas Nabi Mu­hammad s.a.w. setelah peristiwa itu, namun Halimah as-Sa’diyah amat khawatir. Maka segera ia bawa Nabi Muhammad s.a.w. kem­bali kepada keluarganya di Makkah.

KETIKA DI ASUH KAKEKNYA, ABDUL-MUTTALIB
Siti Aminah amat setia terhadap suaminya. Sering kali ia bersama anaknya pergi ke Madinah untuk berziarah ke makam suaminya, sekaligus bersilaturrahmi kepada keluarganya, Bani Najjar, di sana.
Suatu kali, dalam perjalanan pulang dari Madinah, seusai ber­ziarah, Siti Aminah jatuh sakit di desa Abwa’ (antara Makkah dan Madinah). Beberapa saat kemudian, ia wafat di sana, meninggal­kan Nabi Muhammad s.a.w. yang ketika itu barn berusia 6 tahun. Maka jadilah Nabi Muhammad s.a.w. yatim-piatu.
Bersama Ummu Aiman, pembantunya, Nabi Muhammad s.a.w. kembali ke Makkah. Beliau kemudian dipelihara oleh kakek­nya, Abdul-Muttalib, hingga menjelang 9 tahun.

KETIKA DIASUH PAMANNYA, ABU THALIB
Selama tiga tahun bersama kakeknya, Nabi Muhammad s.a.w. akhirnya dipelihara oleh pamannya, Abu Thalib, karena kakeknya itu meninggal dunia. Abu Thalib adalah seorang sesepuh kaum Quraisy yang disegani oleh kaumnya. Meskipun demikian, dia bukanlah tergolong orang yang kaya. Abu Thalib hanyalah seorang pedagang biasa yang wring merantau ke negeri Syam ber­sama serombongan kafilah dagangnya.
Ketika berusia 12 tahun, Nabi Muhammad s.a.w. diajak oleh pamannya itu pergi berdagang, ke Syam. Sampai di suatu dusun perbatasan Syam, Abu Thalib bersama kemenakannya itu singgah di rumah seorang pendeta Nasrani yang saleh, bernama Bahira. Dari kitab Taurat dan Injil yang dipelajarinya, pendeta Bahira dapat mengetahui ciri-ciri kenabian yang ada pads diri Nabi Mu­hammad yang masih kecil itu. Maka, dengan Berta-merta, pendeta Bahira memberitahukan hal itu kepada Abu Thalib seraya berkata: “Wahai saudaraku, sesungguhnya anakmu ini adalah manusia pilihan Allah, calon pemimpin umat manusia di dunia ini. Maka jagalah ia balk-balk. Bawalah ia kembali, sebab aku khawatir ia diganggu oleh orang-orang Yahudi di negeri Syam. Bahkan, jika sekiranya kaum Yahudi itu mengetahui bahwa ia adalah calon Rasul –Allah, maka tentulah ia akan membunuhnya.” Maka pulang­lah Abu Thalib ke Makkah bersama Nabi Muhammad s.a.w. se­belum mereka sampai ke negeri Syam.

data-blogger-escaped-alt="https://i1.wp.com/id.effectivemeasure.net/emnb_18_18098.gif" data-blogger-escaped-src="file:///C:\Users\Windows7\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image001.gif" data-blogger-escaped-v:shapes="Picture_x0020_4" v:shapes="_x0000_i1025">BERDAGANG KE NEGERI SYAM
Setelah Nabi Muhammad s.a.w. berusia hampir 25 tahun, Abu Thalib merasa bahwa kemekanannya itu telah cukup dewasa. Maka dipanggilnya Nabi Muhammad, lalu ditawarkanlah kepada­nya suatu pekerjaan yang menguntungkan, seraya berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya kita bukanlah keluarga yang berkecukupan. Bahkan, kurasakan akhir-akhir ini kebutuhan kita semakin sulit didapat. Alangkah baiknya jika engkau pergi kepada Khadijah untuk meminta izinnya membawa barang-barang dagangannya ke negeri Syam. Mudah-mudahan dari usaha itu engkau akan beroleh keuntungan yang besar.”
Nabi Muhammad s.a.w. menyetujui usul pamannya, sebab beliau memaklumi sepenuhnya akan kesulitan yang dihadapi pamannya itu dalam menanggung beban belanja rumah tangganya. Segera beliau pergi kepada Siti Khadijah untuk meminta izinnya memperdagangkan barang-barangnya. Siti Khadijah adalah seorang janda kaya di Makkah. la dikenal sebagai wanita Quraisy yang mulia karena keturunan dan akhlaknya. la adalah wanita budiman, gemar membantu sesamanya, dan senantiasa menjaga kehormatan dirinya, sehingga mendapat gelar At-Thahirah (Wanita Suci).
Menanggapi permohonan Nabi Muhammad s.a.w., Siti Kha­dijah tanpa pikir panjang langsung menyambutnya dengan senang hati, karena ia telah cukup mengenal Nabi Muhammad s.a.w. sebagai pemuda yang ramah , jujur, clan sopan-santun. Maka be­rangkatlah Nabi Muhammad s.a.w. ke negeri Syam, ditemani oleh Maisarah, budak Siti Khadijah. Pulang dari Syam, Nabi Muham­mad memperoleh keuntungan amat besar, yang belum pernah di­capai oleh para pedagang lain. Siti Khadijah amat kagum terhadap pemuda Muhammad. Lebih-lebih ketika ia mendengar sendiri dari Maisarah, bagaimana agungnya perangai Nabi Muhammad selama di perjalanan maupun ketika berdagang. Maka berubahlah rasakagum itu menjadi rasa cinta.

PERKAWINAN NABI MUHAMMAD DENGAN SITI KHADIJAH
Hubungan perdagangan antara Nabi Muhammad s.a.w. de­ngan Siti Khadiiah akhirnya diteruskan ke jenjang perkawinan. Rupanya, Allah SWT menghendaki demikian, karena ada banyak hikmah di batik itu. Dalam suatu upacara yang sederhana, di­langsungkannya akad nikah antara keduanya, suatu pernikahan yang telah menoreh lembaran sejarah Islam. Ketika itu, Nabi Mu­hammad s.a.w. berusia 25 tahun, sementara Siti Khadijah telah berusia hampir 40 tahun. Perkawinan ini membuahkan empat anak putri dan dua orang putra, masing-masing Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, Fatimah, Qasim, dan Abdullah. Tetapi, atas kehendak Allah SWT, kedua anak laki-laki beliau wafat ketika masih kanak-kanak.

GELAR “AL-AMIN
Ketika Nabi Muhammad berusia 35 tahun,di Makkah terjadi bencana banjir sehingga merusakkan sebagian dinding Ka’bah. Setelah usai bencana, kaum Quraisy beramai-ramai memperbaiki dinding Ka’bah yang runtuh itu. Pada saat pekerjaan telah selesai, clan tinggal Hajar al-Aswad (batu hitam) yang mesti dikembalikan di tempatnya semula, terjadilah perselisihan di antara mereka. Masing-masing suku ingin memperoleh kehormatan dengan me­letakkan Hajar al-Aswad itu di tempatnya. Hampir saja terjadi per­tumpahan darah di antara mereka. Tetapi, tiba-tiba salah seorang berkata: “Wahai kaumku, janganlah kalian saling bermusuhan karena ini. Sebaiknya kita tunggu saja esok pagi, siapa yang per­tama kali datang ke pintu Masjid ini, dialah yang berhak meng­ambil keputusan.”
Pagi-pagi keesokan harinya, kaum Quraisy mendapati bahwa orang yang pertama kali masuk ke pintu Masjid adalah Nabi Mu­hammad s.a.w. Maka bersoraklah mereka menyambutnya, karena mereka yakin akan kejujuran pemuda Muhammad. Jadilah Nabi Muhammad s.a.w. sebagai hakim yang memutuskan perkara Hajar al-Aswad itu.
Nabi Muhammad s.a.w. kemudian menggelarkan kain surban­nya di atas tanah dan meletakkan Hajar al-Aswad di atasnya. Lalu, kepada masing-maing kepala suku, beliau memerintahkan untuk memegang tiap-tiap ujung kain itu dan mengangkatnya. Sampai diatas, beliau lalu mengangkat batu suci dengan tangannya sendiri, dan meletakkannya di tempatnya semula. Dengan cara itu, seluruh kaum Quraisy merasa puas, dan berseru: “Kami rela atas keputus­an yang dibuat oleh orang yang dipercaya ini!”
Sejak itu, Nabi Muhammad s.a.w. mendapat gelar “Al-Amin”, artinya “Yang Dipercaya”.

WAHYU YANG PERTAMA
Pada usia 40 tahun, Muhammad sering bertahan di Goa Hira. yaitu mendekatkan diri kepada Tuhan. Tepat pada tanggal 1-17 madhan datanglah Malaikat Jibril membawa wahyu yang pertama. Mula-mula Muhammad ketakutan, tubuhnya gemetar melihat kedatangan Malaikat Jibril. Jibril kemudian merangkulnya, ia makin ketakutan, tubuhnya menggigil. Sesudah dilepas Jibril berkata : bacalah!”
Aka tidak bisa membaca!”JawabMuhammad
Jawaban itu diulang hingga tiga kali. Akhirnya ia berkata kepada Jibril : “Apa yang kubaca?”
Kemudian Jibril membacakan suratt Al-Alaq dari ayat 1-5., Sesudah itu ia pulang ke rumah dengan tubuh gemetar. la disambut Istrinya Khadijah yang sangat setia dan memperhatikannya ia diselimuti oleh Khadijah dan dihibur degan kata-kata yang menentramkan jiwanya.
lalu Khadijah pergi berkonsultasi dengan anak pamannya yang bernama Waraqah bin Naufal. Warakah memberitahukan bahwa yang datang kepada Muhammad itu adalah Jibril yang  pernah datang kepada Musa. Jadi Muhammad akan diangkat menjadi seorang Nabi dan Rasul.

WAHYU YANG KEDUA
Sesudah wahyu yang pertama selama dua setengah tahun Rasulullah tidak mendapat wahyu lagi. la kuatir akan terputus, maka nenyepi ke goa Hira’ lagi. Ketika la menengadah ke langit tampaklah malaikat Jibril. la ketakutan dan segera pulang ke rumah. Minta kepada Hadijah supaya diselimuti. Dalam keadaan berselimut itu datanglah malikat Jibril menyampaikan wahyu kedua yang artinya:
“ hai orang yang berselimut! Bangunlah dan beri peringatan! Besarkanlah Nama Tuhanmu, bersihkanlah pakaianmu dan jauhilah perbuatan Maksiat, janganlah kamu member karena ingin memperoleh yang lebih banyak. Dan hendaklah kamu bersabar untuk memenuhi perintah Tuhanmu.” (Al- Muddatstsir: 1-7)
Dengan demikian jelaslah sudah, bahwa Muhammad diperintahkan menyampaikan Risalah-Nya. Yaitu menyembah Allah Yang Maha Esa.

DAKWAH SECARA SEMBUNYI-SEMBUNYI
Yang pertama kali diajak memeluk Islam adalah keluarganya sendin’dan oran–orang yang dekat dengannya. Pertama yaitu istrinya Hadijah. Kedua Ali bin Abi Thalib, lalu Zaid bin Haritsah. Setelah itu beliau mengajakteman akrabnya yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq.
Dengan berimannya Abu Bakar, maka banyaklah orang-orang yang kemudian mengikutinya. Antra lain: Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidah, bin Jarrah, Arqam bin Abil Arqam. Fatimah bin Khattab. Mereka Inilah yang disebut golongan terdahulu yang masuk Islam atau “As Saabiqunal Awwalum”.
Mereka mendapat ajaran dan gemblengan keimanan dari Rasulullah di rumah Arqam bin Abil Arqam.

MENYIARKAN AGAMA SECARA TERANG-TERANGAN
Tiga tahun menyiarkan agama Islam secara sembunyi-sembunyi . kini datanglah perintah untuk berdakwah secara terang-terangan.
Namun sebagaimana nabi-nabi terdahulu, ajakannya ditolak oleh sebagian besar kaumnya. Hanya sedikit yang mula-mula mau mangikuti ajaran Nabi Muhammad.Walau demikian Muhammad tetap sabar dan terus melakukan dakwah dengan bijaksana. Orang-orang kafir makin jengkel. Mereka mendatangi Abu Thalib, dan minta paman Nabi itu untuk menghentikan kegiatan Nabi mengajak manusia kembali kejalan yang benar.
Tetapi apa jawab Nabi: “Demi Allah wahai paman, sekiranya mereka meletakkan matahari di sebelah kananku, dan rembulan ditangan kiriku dengan maksud agar aku tinggalkan pekerjaan ini (mengajak manusia pada agama Allah) sehingga agama ini tersiar (dimuka bumi) atau aku akan binasa karenanya, namun aku tidak akan menghentikan pekerjaan ini.
Mendengar tekad keponakannya yang membaja itu, Abu Thalib berkata: “Pergilah dan katakan apa yang kamu kehendaki, demi Allah tidak akan menyerahkan kamu karena suatu alasan pun selama­-lamanya”.

PENGANIAYAAN  TERHADAP RASULULLAH DAN PENGIKUTNYA
Melihat Rasulullah masih saja meneruskan dakwanya dan tarus menghina sesembahan mereka berupa patung bodoh yang tak bisa gerak dan berbicara maka orang-orang kafir itu mulai gatal. Terlebih setelah mereka amati makin banyak saja para pengikut Muhammad memeluk agama Islam. Maka mereka mulai menganiaya beliau.
Misalnya, ketika Nabi sedang shalat dan bersujud. di Masjidil Haram, tiba-tiba saja Abu Jahal mengangkat batu besar dan hendak dtimpakan kepada beliau. Tetapi niatnya tak kesampaian karena beliau dilindungi Allah yang mengirim malaikat Jibril. Tubuh Abu Jahal gemeter, ketakutan dan pucat pasi.
Beliau juga pemah dilempari kotoran unta di atas kuduknya. Ketika beliau pulang ke rumah ditaburi debu dan pasir pada mukanya. Yang keterlaluan adalah perbuatan Uqbah bin Abi Muith, ketika beliau shalat masjidil Haram tiba-tiba orang kafir  itu menjerat leher beliau dengan selendangnya sehingga beliau tidak berdaya untuk melepaskannya. untunglahlah pada saat itu muncul Abu Bakar. la langsung memotong uqbah dan menghempaskannya dari Rasulullah.
Beberapa pengikut beliau Yang mendapat siksaan dari orang kafir antara lain: Bilal bin Rabah, yaitu seorang budak milik Ummayyah half. Bilal ditelentangkan di atas terik matahari padang pasir, ditubuhnva ditindihkan batu besar. la dipaksa supaya meninggalkan Islam namun is tetap teguh dan imannya bertambah tebal.
Bilal akhimya dibebaskan oleh Abu Bakar yang membelinya dari Umayyah bin Khalf.
Sahabat lain yang disiksa di luar batas perikemanusiaan adalah Amar bin Yasir beserta kedua orang tuanya. Mereka disiksa pada waktu Dhuhur yaitu di saat terik-teriknya matahari memanggang padang pasir. Ketika Nabi lewat beliau menghibur mereka: “Bersabarlah hai keluarga Yasir, yang dijanjikan untuk kalian adalah surga”. Sahabat Habab bin Arats juga di siksa lebih kejam, lagi. la ditusuk-tusuk dengan besi panas pada punggungnya agar mening-galkan Islam, namun ia tetap tabah dan memilih Islam sebagai agamanya.

HIJRAH KE ETHIOPIA
Keganasan kaum kafir makin merajalela. Pengikut Rasulullah dan’ kalangan lemah makin banyak jumlahnya. Melihat penderitaanmereka Rasulullah tak sampal hati, maka Rasul kemudian menyuruh mereka hijrah ke Ethiopia.
Raja Habasah di Ethiopia temyata mau menenma kedatangan mereka dengan senang hati. Mereka mendapat perlindungan yang baik. Rombongan pertama terdiri 10 laki-laki dan 4 orang wanita. Rombongan kedua 100 orang, di antaranya terdapat Usman bin Affan, Zubair bin Awwam dan lain-lain.
Rasulullah tetap berada di Mekkah. Pada waktu itu masuklah pembesar Qurais kedalam Agama Islam yaitu Umar bin Khattab dan Hamzah bin Abdul Muthallib. Dengan masuknya dua orang jenderal perkasa itu pihak Quraisy makin kuatir kedudukannya akan merosot. Sedang pengikut Rasul semakin bertambah banyak.

EMBARGO TERHADAP BANI HASYIM DAN BANI MUTHALIB
Dengan berbagai cara kaum kafir tidak berdaya mematahkan gerakan Islam, maka cara terakhir yang menurut mereka cukup ampuh adalah mengadakan pemboikotan atau embargo terhadap keluarga Bani Hasyim dan Bani Muthalib, sebab dua keluarga besar itulah yang senantiasa membela dan melindungi Nabi Muhammad.
Pemboikotan itu ialah dengan jalan memutuskan segala perhubungan, baik hubungan perkawinan, hubungan dagang atau jual beli dan ziarah menziarah.
Dengan adanya embargo tersebut terpaksa Nabi Muhammad dan para pengikutnya menyingkir keluar kota Mekkah. Dua tahun lamanya mereka hidup dalam kekurangan dan kemiskinan. Sebenarnya banyak juga  kaum Quraisy yang merasa sedih atas nasib yang menimpa Muhammad dan keluarganya. Diam-diam mereka mengirim bahan makanan dan pakaian pada malam hari. Akhirnya bangkitlah beberapa muka Quraisy untuk menghentikan pemboikotan itu. Mereka merobek-robek isi perjanjlan yang ditempelkan di Ka’bah.
Dengan demikian pulihlah keadaan seperti semula. Rasul dan keluarganya kembali ke kota Mekkah. Akan tetapi nasib para. Pengikut Rasul tidak bertambah baik, kaum kafir makin giat menindas dan menyiksa mereka.

TAHUN DUKA CITA
Hampir sepuluh tahun Islam tumbuh di Mekkah. Baru saja kaum Muslimin terlepas dari pemboikotan.Kini datang lagi cobaan berat dengan meninggalnya Khadijah dan disusul kemudian oleh Abu Thalib. Padahal kedua orang itu adalah tulang punggung pembela Islam.
Khadijah adalah istri setia yang selalu mendampingi Rasul dalam menyebarkan agama Islam. la salah seorang bangsawan Quraisy yang disegani oleh kaumnya.
Demikian juga Abu Thalib, wibawanya dikalangan Quraisy sangat besar. Kini setelah dua orang itu meninggal dunia pihak kafir Quraisy seperti mendapat angin segar. Mereka tak segan-segan lagi mengadakan gangguan terhadap Rasul dan para pengikutnya.
Karena kehilangan dua orang yang sangat dikasihi itu, maka tahunnya dinamakan Tahun Duka Cita.

DAKWAH DI THALIF
Karena masyarakat Mekkah tidak banyak yang mau menerima ajarannya. maka beliau pergi ke Thaif untuk berdakwa kepada orang­-orang bani Tsaqif. Beliau menuju tempat para pembesar yang berkuasa di Thaif. Beliau bicara tentang Islam dan mengajak mereka supaya beriman kepada Allah.
Tetapi ajakannya ditolak mentah-mentah dan dijawab dengan kasar sekali. Mereka malah mengusir beliau sambil menghujaninya dengan batu sehigga Zaid bin Haritsah yang ikut dalam misi itu terluka ketika bermaksud melindungi beliau. Beliau sendiri juga mengalami luka-luka akibat hujan batu itu.

ISRA’ DAN MI’RAJ
Setelah gagal mengajak kaum Thaif untuk beriman kepada Allah, maka beliau kembali ke Mekkah. namun cobaan semakin berat. Ancaman dari sana-sini selalu mengintai.
Pada saat demikian terjadilah peristiwa besar di malam hari yang, terkenal dengan sebutan Isra’ dan Mi’raj. Yaitu perjalanan Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha kemudian dilanjutkan ke Sidraftul Muntaha menembus langit yang tujuh.
Dalam perjalanan itu Rasui melihat berbagai peristiwa yang, dapat dijadikan i’tibar atau cermin teladan bagi umatnya.
Perjalanan itu sendiri adalah untuk memenuhi panggilan Allah. Yaitu untuk menerima kewajiban melaksanakan shalat lima waktu.
Peristiwa ini hanya terjadi pada waktu satu malam, yaitu pada malam 27 Rajab tahun 11 sesudah beliau diangkat menjadi Rasul.
Hikmah yang terkandung dalam Isra’ Mi’raj adalah untuk me­nambah kekuatan iman dan keyakinan beliau sebagai utusan Allah, yang diutus ke tengah-tengah umat manusia untuk membawa risa­lah-Nya. Dengan demikian akan bertambahlah kekuatan batin sewaktu  menerina cobaan dan musibah serta siksaan dari kaum kafir.
Bagi umat Islam sendiri ini merupakan ujian keimanan mereka. Mereka bisa bertambah yakin akan kebenaran Rasul, atau malah bertambah kafir dan tidak mempercayai Rasul lagi.

ORANG YATSRIB MASUK ISLAM
Pada musim Haji datanglah Kabilah  dari kalangan berbagai penjuru Menuju kota Mekkah. Di antara mereka yang datang ada jamaah orang Khazraj dan Yatsrib. Sebagainiana biasa musim haji Rasalullah melaksanakan ibadah haji. Orang Khazraj sudah sering mendengar Kitab Taurat dari bangsa Yahudi yang menyebutkan bakal adanya Nabi akhir zaman bernama Ahmad atau Muhammad. Karena itu ketika Rasulullah menyaran­kan dakwahnya mereka langsung menerima dan mengimani.Setelah mereka pulang ke Madinah mereka menyampaikanhal itu  kepada saudara-saudaranya dan kerabatnya. Bahwa Nabi yang dijanjikan itu sekarang sudah datang ke negeri Mekkah.
Demikianlah setiap musim haji datang makin banyak pula orang-orang Yatsrib yang masuk Islam dan bersumpah setia akan membela ,Rasul dan agamanya. Dengan demikian sudah banyak sekali orang-orang Yatsrib yang memeluk agama Islam.

HIJRAH KE YATSRIB (MADINAH)
Mekkah sudah tidak aman lagi bagi Rasulullah dan pengikutnya, sementara orang-orang Yatsrib setiap hari semakin banyak yang masuk islam dan merindukan beliau hadir di tengah-tengah mereka.
Maka Rasulullah memerintahkan para pengikutnya untuk hijrah ke Yatsrib. Berangkatlah para pengikut Nabi, secara diam-diam ke (atsrib, mereka ikhlas meninggalkan harta benda  dan rumah-rumah mereka demi memenuhi perintah Rasul. Sedang Rasulullah dan Abu Bakar akan menyusul di belakang hari.
Kabar tentang hijrah itu segera tercium oleh kaum kafir Qurais mereka sepakat untuk membunuh Rasulullah. Namun rencana mereka gagal. Allah melindungi Rasul-Nya. Setelah melalui berbagai rintangan sampailah Rasulullah di desa Quba yaitu sebuah tempat jaraknya 10 Kilometer dari Yatsrib.
Di Quba beliau mendirikan masjid, maka hingga sekarang masjid tersebut dinamakan Masjid Quba. Inilah masjid yang pertama kali di bangun umat Islam.Setelah empat hari beristirahat di Quba beliau meneruskan perjalanannya ke Yatsrib. Di sana beliau disambut dengan hangat oleh para pengikutnya yang telah lama merindukan kedatangannya.

KEMENANGAN UMAT ISLAM
Ternyata dari Yatsrib Inilah Rasulullah dapat menyusun kekuatan dan membina masyarakat Islam dengan sempunna. Yastrib kemudian diubah namanya menjadi Madinatun Nabawiatau kemudian disebut Madinah.
Di Madinah ini beliau membentuk angkatan perang dan mem­bina strategi perang. Sejarah kemudian mencatat bahwa Muhamad strategi perang. hanya seorang Nabi dan Rasul tapi juga seorang Kepala Negara. ahli tata masyarakat, Panglima Perang yang tangguh dan seorang ayah yang pastas diteladani oleh putra-putrinya.
Sesudah terjadi Perang Badar, perang Uhud dan peperanglainnya. akhirya Mekkah pun jatuh dalam kekuasaan beliau. Dengan  jatuhnya Mekkah, maka hampir dekatlah tugas kerasulan beliau.
Sesudah melaksanakan haji wada’, pada tanggal 12 Maulud hari Senin tahun 11 Hijriyah beliau wafat meninggalkan umatnya. Dalam penanggalan Masehi bertepatan dengan tanggal 8 Juni 632 dalam usia 63 tahun.
Beliau dimakamkan di Madinah. Hingga sekarang makamnya selalu ramai diziarahi umat Islam dari seluruh dunia ketika mereka melaksanakan ibadah haji.Beliua tidak meninggalkan warisan harta benda. Beliau hanya meninggalkan dua perkara yaitu Al-Qur’an dan As-SUnnah. Siapa pun umatnya jika tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Al-Hadits. maka la tidak akin tersesat selama-lamanya.

PENAKLUKKAN KOTA MAKKAH
Setelah Islam menjadi besar di kota Madinah, Rasulullah s.a.w. bersama sahabat-sahabat dan seluruh pengikutnya kembali ke kota Makkah, dan merebut kembali kota itu dari tangan kaum kafir Quraisy. Kedatangan kaum Muslimin di Makkah itu berte0at­an dengan tanggal 10 Ramadhan tahun 8 Hijriah. Ketika itu, turunlah firman Allah SWT kepada Nabi Muhammad s.a.w. sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an:
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbon­dong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Menerima Tobat”. (S. An-Nashr: 1-3)
Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. bersama para pengikutnya menghancurkan berhala-berhala yang ada di seputar Ka’bah, se­bagaimana firman Allah: “Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap”. (S. Al-Isra’: 81)
Dua tahun setelah penaklukkan Makkah, Nabi Muhammad s.a.w. beserta kaum Muslimin melaksanakan ibadah haji, yang disebut Haji Wada’ (Haji Perpisahan), karena setelah itu beliau meninggalkan umatnya untuk selama-lamanya. Di dalam kesem­patan terakhir itu, Rasulullah s.a.w. mengucapkan pidato yang amat bernilai di hadapan seluruh kaum Muslimin di Padang Arafah. Pada saat itu, turunlah wahyu Allah yang terakhir, yang berbunyi:
Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah kurelakan Islam menjadi agamamu”. (S. Al- Ma’idah: 3)

NABI MUHAMMAD WAFAT
Dengan penuh rasa syukur, Nabi Muhammad s.a.w. meng­akhiri tugasnya sebagai seorang Rasul, dengan mengislamkan se­luruh penducluk Makkah, Madinah, clan daerah-daerah lain di seputar Jazirah Arabia. Setelah menderita sakit selama beberapa hari, pads tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun ke-11 Hijriyah, beliau berpulang ke rahmatullah dalam usia 63 tahun. Nabi Muhammad s.a.w. dimakamkan di kota Madinah. Sebelumnya, beliau sempat berpesan kepada keluarganya, pars sahabatnya, clan seluruh kaum Muslimin dengan sabdanya yang termasyhur:
Telah kutinggalkan untuk kalian dua perkara yang apabila kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya tidak akan tersesat untuk selama-lamanya, yakni: Kitabullah (Al-Quran) dan Sunnah Rasul-Nya.




SUKU BUNGA

Pegertian Bunga Bank Bunga bank dapat diartikan sebagai balas jasa yang diberikan oleh bank yang berdasarkan prinsip konvensional kep...